UMAR BIN ABDUL AZIZ (1)

29 07 2011

NAMA,GELAR,KUNYAH, DAN KELUARGANYA        

Urutan nasab Umar adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abu al-Ash bin Abd Syams bin Abd Manaf, seorang imam,al-Hafizh,allamah,mujtahid,ahli zuhud,ahli ibadah,pemimpin, dan Amirul Mukminin dalam arti yang sebenarya. Kunyah beliau adalah Abu Hafs dan nasabnya al-Qurasyi, al-Umawi, al-Madani, dan al-Mishri.

Beliau adalah seorang khalifah yang lurus (ar-Rasyid) sekaligus ahli zuhud,seorang imam ahli ijtihad dan Khulafa’ Rasyidin yang berakhlak mulia, berwajah tampan, berakal sempurna,berperangai baik, peletak kebijakan-kebijakan brilian,berilmu lapang, berjiwa mumpuni, memiliki kecerdasan, dan pemahaman yang bersih.

AYAH UMAR BIN ABDUL AZIZ

Ayah Umar bernama Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam,satu dari gubernur-gubernur Bani Umayyah pilihan, seorang laki-laki pemberani dan dermawan, beliau memegang jabatan gubernur Mesir lebih dari dua puluh tahun.Di antara keshalihan dan kebersihan hatinya yang sempurna adalah ketika ingin menikahi Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin al-Khattab dia berkata kepada orang kepercayaannya, ”Kumpulkan empat ratus dinar untukku dari hartaku yang halal, aku ingin menikah dengan seorang wanita dari keluarga yang shalih.” Pernikahan Abdul Aziz dengan keluarga al-Khattab tidak akan pernah terwujud kalau mereka tidak mengetahui keadaannya, kebaikan sirah, dan akhlaknya. Laki-laki dengan riwayat hidup yang bagus di masa muda, disertai kesungguhan dan keseriusannya dalam menuntut ilmu, perhatiannya yang besar terhadap hadist Nabi. Dia berguru kepada Abu Hurairah dan sahabat-sahabat yang lain dan mendengar dari mereka, perhatiannya terhadap hadist tetap hidup sekalipun telah menjabat sebagai gubernur Mesir, dia meminta kepada Katsir bin Murrah di Syam agar mengirimkan hadist yang dia dengar dari Rasulullah, kecuali riwayat Abu Hurairah karena dia sudah memilikinya.

Para ahli sejarah banyak menyanjung Abdul Aziz karena kedermawannya, kedermawanan yang menyatu dengan keyakinan bahwa Allah akan memberi ganti kepada siapa yang Dia limpahi rezeki. Beliau pernah berkata, ”Sungguh aneh seorang Mukmin yang beriman bahwa Allah melimpahkan rezeki dan memberinya ganti, bagaimana dia menahan hartanya sehingga dia tidak meraih pahala besar dan sanjungan yang baik?”

Abdul Aziz adalah laki-laki yang senantiasa takut kepada Allah. Kita menyimpulkan rasa takut ini dari ucapannya manakala maut menjemputnya, “Seandainya aku bukan sesuatu yang pernah disebut dan sungguh aku berangan-angan air yang mengalir atau sebuah pohon di bumi Hijaz!”

IBU UMAR BIN ABDUL AZIZ

Ibu Umar bernama Ummu Ashim atau Laila binti Ashim bin Umar bin al-Khattab. Bapaknya adalah Ashim bin Umar bin al-Khattab,seorang ahli fikih yang mulia,Kunyahnya yaitu Abu Amru al-Qurasyi al-Adawi, lahir di zaman kenabian dan menyampaikan hadist dari ayahnya, ibunya adalah Jamilah binti Tsabit bin Abu al-Aqlah al-Anshariyah. Seorang laki-laki dengan perawakan tegap lagi jangkung, satu dari sekian laki-laki mulia,agamis,baik,shalih,fasih,penyair, dan pemilik kata-kata yang mendalam. Dialah kakek Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari pihak ibu yang wafat tahun 70 H.

Nenek Umar dari pihak ibu mempunyai kisah dengan Umar bin al-Khattab. Dari Abdullah bin az-Zubair bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya Aslam, beliau berkata, “Suatu malam aku sedang menemani Umar bin al-Khattab berpatroli di Madinah. Ketika merasa lelah, beliau bersandar ke sebuah dinding di tengah malam kemudian mendengar wanita berkata kepada putrinya,”Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.” Maka putrinya menjawab,”Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin hari ini?” Ibunya bertanya,”Wahai putriku, apa maklumatnya?” Putrinya berkata,”Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan,hendaknya susu tidak dicampur dengan air.” Ibunya berkata,”Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.” Maka gadis itu menjawab,”Ibu, tidak patut bagiku menaatinya di depan khalayak dan menyelisihinya di belakangnya.” Sementara Umar mendengar  semua perbincangan tersebut. Maka dia berkata,”Aslam, tandai pintu rumah tersebut dan kenalilah tempat ini.” Kemudian Umar bergegas melanjutkan patrolinya. Di pagi hari Umar berkata,”Aslam,pergilah ke tempat itu, cari tahu siapa wanita yang berkata demikian, apakah dia sudah mempunyai suami?” Aku berangkat ke tempat itu, ternyata dia adalah seorang gadis yang belum bersuami. Aku pulang kepada Umar dan mengabarkan hal tersebut, maka Umar memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka,Umar berkata,”Adakah diantara kalian yang ingin menikah?” Ashim menjawab,”Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku.” Maka Umar meminang gadis itu dan menikahkan dengan Ashim. Dari pernikahan itulah lahir seorang putri yang kemudian menjadi ibu bagi Umar bin Abdul Aziz.”

bersambung…


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.