KELAHIRAN UMAR BIN ABDUL AZIZ
Ahli sejarah berbeda pendapat tentang kelahiran Umar, pendapat yang rajih adalah dia lahir tahun 61 H. Ini disinkronkan dengan usia beliau wafat yaitu tahun 101 H dalam usia empat puluh tahun. Sebagian sumber beliau lahir di Mesir, namun pendapat ini lemah karena ayahnya Abdul Aziz bin Marwan menjadi gubernur Mesir tahun 65 H.
Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Umar lahir di Madinah pada masa khalifah Yazid bin Mu’awiyah.
CIRI-CIRI FISIK UMAR BIN ABDUL AZIZ
Umar bin Abdul Aziz berkulit coklat, berwajah lembut namun tampan, berperawakan ramping, berjanggut rapi, dan bermata cekung. Di keningnya terdapat bekas luka akibat sepakan kaki kuda dan uban telah tumbuh di kepalanya.
MASA KECIL UMAR BIN ABDUL AZIZ
Umar bin Abdul Aziz dilimpahi kecintaan terhadap ilmu sejak masih kecil, dia gemar mengkaji dan menelaah bersama para ulama, dia juga bersungguh-sungguh untuk selalu menghadiri majelis ilmu di Madinah yang pada masa itu merupakan mercusuar ilmu dan kebaikan, sarat dengan ulama dan fuqaha’ yang shalih. Jiwa Umar bin Abdul Aziz telah terpatri untuk mencintai ilmu sejak kecil. Tanda awal dari kelurusan hidupnya adalah kesungguhannya dalam menuntut ilmu dan kecintaannya terhadapa budi pekerti.
Umar bin Abdul Aziz telah menghafal al-Qur’an dalam usia anak-anak. Hal ini terbantu oleh jiwannya yang jernih, kemampuannya yang besar untuk menghafal, dan konsentrasinya yang utuh dalam mencari ilmu.
Umar bin Abdul Aziz banyak terpengaruh oleh al-Qur’an dalam pandangannya terhadap Allah, kehidupan, alam semesta, surga, neraka, qadha’,qadar, dan hakikat kematian. Beliau menangis ketika teringat kematian sekalipun dalam usia sangat muda. Hal ini didengar oleh ibunya, maka ibunya bertanya kepada Umar,”Apa yang membuatmu menangis?” Umar menjawab,”Aku teringat kematian.” Maka ibunya pun ikut menangis mendengar jawaban Umar.
PENDIDIKAN UMAR BIN ABDUL AZIZ
Umar bin Abdul Aziz belajar dan dididik dibawah asuhan para fuqaha’ dan ulama besar Madinah. Di antara salah satu ulama-ulama yang memberinya pengaruh positif adalah Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, Umar sangat menghormatinya, menimba ilmu darinya, dan beradab dengan adabnya. Umar bin Abdul Aziz mengungkapkan kekaguman kepada syaikhnya dalam kalimat,” Sekali datang ke majelis orang buta(Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud), lebih berharga bagiku daripada seribu dinar.”
UMAR BIN ABDUL AZIZ MENJADI KHALIFAH
Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, “Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini“. Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki“. Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah. Ketika pulang ke rumah, Umar berfikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Ia berniat untuk tidur. Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat ayahnya dan berkata, “Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab, “Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini.” “Jadi apa engkau akan buat wahai ayah?” Tanya anaknya. Umar membalas, “Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat.” Apa pula kata anaknya apabila mengetahui ayahnya Amirul Mukminin yang baru “Ayah, siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi” Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku.”
bersambung…